Jakarta, STIPANnews – Pembangunan infrastruktur secara masif disertai gelontoran dana otonomi khusus yang cukup besar di Papua harus dibarengi dengan penguatan sumber daya manusianya. "Pemerintah berharap dana otonomi khusus dapat digunakan untuk membangun Papua, tapi sekali lagi, pemerintah tolong pemda diperkuat," ujar Aktivis dari Kemitraan Yasir Sani dalam sebuah perbincangan di STIPAN Channel, beberapa waktu lalu.

Ia sangat prihatin dengan kondisi banyaknya aparat pemerintahan yang tidak melayani masyarakat dengan benar. "Di salah satu kabupaten, ada OPD yang setahun tidak buka, sementara OPD lain hanya masuk satu hari dalam seminggu. Bagaimana layanan publiknya akan berjalan sementara aparatnya tidak jalan," ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya terjadi pada aparaturnya saja namun juga pada masyarakat sipilnya. "Para pendamping yang harusnya berada di kecamatan atau kelurahan dan desa banyak yang ngumpulnya dikota. Inilah ironinya pembangunan di Papua," keluhnya.

Untuk itu, ia berharap Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN) bisa memperkuat SDM perangkat birokrasi baik ditingkat kecamatan, kelurahan, desa sampai dengan kabupaten di Papua.

"STIPAN bisa jadi motor untuk memberi tauladan bagaimana menjadi seorang aparatur yang baik. Jangan sampai tergerus budaya lama tapi harus membawa budaya baru bagaimana tata kelola pemerintahan di Papua dan Papua Barat sampai ke level kecamatan menjadi sangat progresif. Harapan ini menjadikan warga Papua merasakan keberadaan negara hadir diantara mereka," tambahnya.

Ia melihat perlunya leadership di Papua. "Misal di sana dibutuhkan 100 orang guru kemudian ada pengadaan guru, namun ternyata gurunya hanya datang ke wilayah tersebut hanya seminggu sekali. Untuk itulah leadership di Papua menjadi sangat penting," lanjutnya.

Namun demikian, dari pengalamannya, ada beberapa kepala daerah, seperti di daerah Sarmi yang memiliki leadership dengan memberikan contoh pelayanan yang baik. "Di Papua ada 3 tungku yaitu pemerintah dalam hal ini birokrasi, tokoh masyarakat atau gereja dan yang ketiga adalah kepala suku. 3 tungku ini terus didorong namun tidak pernah dilihat kinerjanya, kalau ketiganya dilakukan evaluasi maka Papua akan lebih baik," tambahnya.

Kedepan ia berharap pemerintah bisa membangun Papua dengan hati dan memanusiakan masyarakat Papua sebagai warga negara. "Perlu dibangunkan dan dibangkitkan. STIPAN harus mengirimkan para sarjananya sebagai motor dan kader untuk memberi warna di Papua. Memang berat tapi itu harus dimulai. Membangun Papua tidak bisa hanya dengan kata-kata tapi harus dengan suri tauladan yang baik. Saya berharap STIPAN memberikan sumbangsih kadernya untuk membangun Papua menjadi lebih baik dan maju," Tandasnya. SC-02*