Jakarta, STIPANnews - Sistem pengajaran, pelatihan dan pengasuhan (Jarlatsuh) yang diterapkan di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN) ternyata mampu memunculkan jiwa kepempinan seseorang. Setidaknya iniah yang dirasakan Yudas Alep Itlay, Alumnus STIPAN yang kini bekerja di bagian kemahasiswaan STIPAN.

Berbicara kepada redaksi dalam sebuah wawancara di STIPAN Channel, Jumat 28/5/2021, Yudas mengatakan sangat bersyukur bisa mengikuti perkuliahan di STIPAN karena sestem pengajarannya sangat bagus dan meemunculkan jiwa kepemimpinan yang selama ini terpendam. "Sewaktu saya masih sekolah SMA, untuk berbicara didepan teman-teman saja saya sangat grogi, tapi setelah masuk ke STIPAN, pelan-pelan dilatih untuk tampil di depan orang, dan sekarang saya lebih percaya diiri," ujar Yudas, mahasiswa asal papua ini.

Ia mengaku sejak kecil ingin sekali merantau dan sekolah diluar Papua karena ia yakin sekali ilmu yang didapat diluar Papua pasti akan sangat bermanfaat dalam mengembangkan dan membangun Papua dari ketertinggalannya.

"Pertama kali datang ke Jakarta, saya sangat heran dengan gadung-gedung yang begitu tinggi dan kemajuan yang luar biasa. Saya bertekad untuk bagaimana agar Papua juga harus mendapatkan sentuhan pembangunan," ujar aktor Zerre Pendekar Ufuk Timur ini.

Beruntung sekali ia bisa masuk dan kuliah di STIPAN dan mewujudkan cita-citanya tersebut. Menurunya, Ia sangat terbantu dengan sistim pendidikan di STIPAN karena melalui sistem pengajaran, pelatihan dan pengasuhan atau jarlatsuh, Yudas bisa memunculkan sifat percaya dirinya dan mengendalikan sifat pemalunya. "Melaui kegiatan pengasuhan, para praja diarahkan untuk memerbaiki semua kekurangan sekaligus membentuk karakter pribadi, sementara melalui pelatihan, praja dibekali ilmu terapan sehingga ada basic ketrampilan yang bisa dibawa," tambahnya.

Selain itu, melalui pendidikan dasar, mental dan kedisiplinan (diksarmendis) yang diterapkan STIPAN, ia mendapat gemblengan pendidikan mental, kedisiplinan, nasionalisme dan loyalitas yang dipupuk sejak awal. "Ditambah lagi dengan suasana di asrama dan di kampus dengan berbagai macam praja yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia semakin menambah nasionalisme dan jiwa kepimpinan," lanjutnya.

Meski berasal dari berbagai suku dan bahasa, Yudas mengaku tidak mengalami kendala dalam bersosialisasi dengan sesama praja. Menurutnya, di Papua banyak penduduk pendatang yang berasal dari hampir seluruh di Indonesia, sehingga ia sudah terbiasa dan memahami karakter dan budaya mereka.

Foto: Yudas Alep Itlay dalam sebuah Talksow di STIPAN Channel

 

Ingin Membangun Papua

Yudas, alumnus STIPAN ini ingin sekali kembali ke Papua dan membangun tanah kelahirannya tersebut. Menurutnya, masih banyak yang harus diperbaiki di Papua diantaranya mental masyarakatnya. "Masyarakat masih banyak tergantung kepada pemerintah. Berbeda dengan para pemuda yang ada di sini, gerenerasi milinealnya banyak yang kreatif, inovatif dan mau bersaing bahkan banyak menciptakan lapanganan kerja," keluhnya.

Selain itu, ia juga melihat masih banyak pelayan masyarakat yang bekerja kurang tulus dan ikhlas. "Kalau mereka bekerja dengan benar, pasti sekarang raktat Papua sudah sejahtera, bahkan Papua dan Papua Barat masih termasuk daerah termiskin diindonesia," ujarnya sedih.

Ia juga mengeluhkan banyaknya tenaga pendidikan, kesehatan dan abdi negara lainnya yang tidak betah bertugas di pelosok dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kota. "Banyak guru kembali ke kota sehinga siswa tidak diajar. Demikian juga dengan tenaga kesehatan, birokrasi di kecamatan yang tidak betah tinggal dipelosok. Ada juga yang tulus melayani, tapi perbandingannya tidak banyak, satu dibanding sepuluh mungkin," sambungnya.

Untuk itu ia sangat berharap kepada pemerintah pusat untuk menolong Papua agar para abdi negaranya dapat bekerja dengan ikhlas dan melayani masyarakat dengan baik. "Saya yakin kalau dikalola dengan benar, masyarakatnya bisa sejahtera," harapnya.

Ia juga meminta pemerintah memperhatikan dan melibatkan banyak pemuda Papua yang kini menganggur meski telah memiliki kemampuan. "Banyak mahasiswa Papua yang menganggur harus dilibatkan sebagai keder penerus Papua. Perhatikan para pemuda yang sudah memiliki ijazah sesuai dengan kompetensinya," ujarnya menutup pembicaraan. *SC-02